Waah akhirnya pernah juga menginjakkan kaki di Aceh, tepatnya di Banda Aceh. Gak nyangka dulu yang hanya sekedar angan-angan “apa iya aku bisa ke Aceh?” ternyata akhirnya... Sementara teman-teman lain ada yang sudah berkali-kali ke Aceh sejak dilanda tsunami beberapa tahun silam.
Memang ke Aceh bukan untuk jalan-jalan, tapi untuk memberi training tenaga kerja sosial yang bekerja di kecamatan-kecamatan yang tersebar di Aceh. Sungguh pengalaman yang luar biasa buat diriku yang masih bisa dibilang pemula dalam hal training.
Berangkat hari Minggu, lalu pulang hari Kamis. Terbayang kan betapa waktunya sangat sempit jika ingin berjalan-jalan di sana. Paling hanya bisa mencuri waktu di saat break. Itu juga jadi seperti wisata kuliner dan mampir sebentar ke beberapa toko suvenir.
Buat diriku yang sejak kecil memang sering berpindah-pindah ke beberapa kota di Indonesia (Medan, Balikpapan, Pekanbaru, dll.), rasanya tidak asing berada di sana. Bila jalan naik mobil hanya butuh beberapa menit ke suatu tempat. Yang berbeda dari kota lain yang pernah kukunjungi adalah di sana tidak ada mal, bila mau ya jalan ke pantai (yang ini sayangnya sungguh tidak sempat, padahal hati ini ingin sekali..).
Yang cukup unik di sana banyak warung kopi. Jadi, kalau ada break di sela-sela training pada umumnya para peserta tidak jauh-jauh dari warung kopi. Nah, kalau yang ini aku sempat merasakan. Namanya Sanger, entah apa artinya, tapi yang pasti seperti kopi susu rasanya. Sambil minum kopi dan ngobrol dengan teman-teman baru, aku coba juga roti bakarnya. Memang tidak ada yang berbeda dengan roti bakar di Jakarta. Yang berbeda adalah suasananya. Duduk di pinggir jalan dan dengan lampu yang tidak cukup menerangi semua tempat. Rasanya ini suatu hal yang tidak bisa kita rasakan di Jakarta. Terlebih lagi, kita tidak perlu terburu-buru untuk segera memulai sesi training berikutnya, karena jarak tempuhnya hanya sekedar 10-15 menit (yang menurut ukuran kota kecil sebenarnya cukup jauh juga).
Pulang dari Aceh, aku sempat membeli beberapa dompet khas sulaman Aceh. Cukup unik, berwarna, dan tersulam dengan rapi. Lalu, sempat juga membeli kopi Aceh (yang sampai sekarang aku sendiri belum mencobanya). Beberapa teman bahkan menyempatkan diri membeli “ayam tangkap” yang langsung bisa dimakan, padahal waktu untuk naik pesawat sudah sangat sempit. Bayangkan begitu sampai di tempat check-in, tulisan di meja langsung diganti dengan “closed” (hehe).
Perjalanan pulang dari Aceh ke Jakarta cukup lama, yaitu empat jam (transit dulu di Medan selama 30 menit). Agak melelahkan memang, terlebih lagi dalam perjalanan di pesawat cuaca tidak cukup baik. Agak cemas juga mengingat masih ada sisa trauma dalam perjalanan Surabaya ke Jakarta beberapa waktu lalu. Yah, begitulah sekilas cerita dari Aceh. Hmm, setelah ini kemana lagi yaa?..
Tuesday, November 25, 2008
Aceh
Friday, November 14, 2008
Bicara
Sulitkah kau meminta?
Bisa ya, bisa juga tidak..
Barangkali menjadi rumit
karena pendar-pendar pertimbangan di kepalamu
Atau tubuhmu diselimuti keraguan
Atau sesungguhnya kau tak sepenuhnya ingin
Coba tanyakan hatimu,
Apa kau sungguh-sungguh ingin memintanya?
Dari relung terdalam,
Kumohon bicaralah..
Wednesday, November 12, 2008
Janji
Kelu sudah terasa
Ada sesuatu...
Yang tak pernah tiba
Entah sampai kapan
Haruskah aku masih percaya?
Terpaku setia
Terikat waktu yang tak lagi muda
Kutanya padamu
Mengapa keraguan yang tampak di sana?
Monday, November 10, 2008
Menanti
Seribu tanya pada Sang Hidup
Tak bisa tidak
Terduduk termenung
Menunggu jawab
Kearifan kata
Tidak berhasil menentramkannya
Semua tampak keliru
Decak kagum telah berubah wujudnya
Jadi peluh kasihan
Pada orang teraniaya
Yang sedang tersenyum kaku
Menanti yang ia sendiri tak tahu
Friday, October 31, 2008
Curam
Senyum getir
Wajah letih
Tetap berpegangan tangan
Erat..
Seperti tak bisa lepas
Atau mungkin takut terlepas
Di sela kehampaan
Di tengah kebisingan hidup
diterpa dera angin menderu
Pijakan yang gamang
oh hidup,
apa mungkin dimengerti?
Friday, October 17, 2008
Menghitung detik
Jarum detik
Biasanya tak terdengar
Sayup-sayup semakin nyaring suaranya
tik... tik... tik...
Lambat namun menghujam
Akhirnya,
Saat pun tiba
Turun tahta dari singgasana terhormat
Menuju ruang terbawah
Untaian kata hati terurai
Tanpa maksud
Hanya berbagi sesal dan kenangan
Tercoreng
Keliru dan salah
Apa pernah dilakukannya?
Hampir putih
Pandangan dan perilakunya
Tak memandang pula
Kelemahan dan cacat mereka
Dan hanya karena putih
Wajah tercoreng
Kehadiran yang tak ditunggu lagi
Ungkapan jua tak diakui
Telah dicoret namanya
Sebab ia menjadi penghadang
Karena ia seorang penghalang
Wednesday, October 15, 2008
Sang Patih di Negeri Humam

Kisah di sebuah Negeri yang (tak) adil
Singkat cerita, si kepala desa akhirnya menjadi patih. Senanglah keluarga sang patih. Jerih payah dan duka luka yang telah mereka jalani selama ini terbayar sudah. Sulit dibayangkan tugas si kepala desa ini dahulu kala. Ia sering dipindahtugaskan dan herannya sering pula harus menjadi kepala desa di negeri yang kering kerontang. Tak dianggap oleh kepala desa-kepala desa yang lain justru karena kebaikan yang ia miliki. Istrinya bahkan pernah menjual beberapa harta benda yang mereka miliki tanpa sepengetahuan si kepala desa untuk kelangsungan hidup mereka. Betapa Tuhan Maha Adil dan betapa Tuhan Maha Melihat bagi si kepala desa yang telah menjadi patih ini.
Cerita selengkapnya:
Di negeri Humam, seorang pangeran yang menggantikan pangeran sebelumnya berusaha memerintah dengan adil. Dengan tangan dinginnya ia dibantu patih-patih terbaik di negerinya untuk membantunya mengatur dan memerintah negerinya. Sang pangeran masih muda, belum terlalu tua. Pangeran muda yang bersemangat dan senang bekerja. Selain itu, ia juga bisa membina hubungan baik dengan negeri-negeri lain yang jauh dari negerinya. Sang raja, ayahanda sang pangeran senang melihat hasil kerja anandanya ini.
Entah pada bulan ke berapa sang pangeran muda memerintah, salah satu patih terbaiknya dipanggil Yang Kuasa. Tak lama berduka, ia segera mencari calon patih yang dapat menggantikan patih yang telah mangkat itu. Sebelumnya ia telah banyak mendengar tentang nama seorang kepala desa dari desa baya yang pintar dan baik budinya. Ia pun mencoba mengenal si kepala desa yang sederhana itu. Ternyata benar adanya bahwa si kepala desa adalah orang yang rajin dan tidak pernah melakukan sesuatu pun yang merugikan negerinya.
Singkat cerita, si kepala desa akhirnya menjadi patih. Senanglah keluarga sang patih. Jerih payah dan duka luka yang telah mereka jalani selama ini terbayar sudah. Sulit dibayangkan tugas si kepala desa ini dahulu kala. Ia sering dipindahtugaskan dan herannya sering pula harus menjadi kepala desa di negeri yang kering kerontang. Tak dianggap oleh kepala desa-kepala desa yang lain justru karena kebaikan yang ia miliki. Istrinya bahkan pernah menjual beberapa harta benda yang mereka miliki tanpa sepengetahuan si kepala desa untuk kelangsungan hidup mereka. Betapa Tuhan Maha Adil dan betapa Tuhan Maha Melihat bagi si kepala desa yang telah menjadi patih ini. Begitu pula bagi keluarganya.
Kepercayaan sang pangeran padanya betul-betul dijaganya. Sang patih baru ini tampak sangat bersemangat jikalau sang pangeran membutuhkan tenaga dan pendapatnya. Ada kalanya ia merasa sulit menjalankan tugasnya. Tapi jika melihat kembali penghargaan dan pengakuan yang didapatkannya ini, ia kembali merasa tertantang dan menggeloralah api semangatnya. Terkadang ia merasa lelah setelah seharian bertugas, namun ia tetap dengan senang hati bercerita pada istri dan kedua anaknya yang beranjak dewasa tentang tugas-tugas beratnya. Suatu tugas yang amat ia banggakan dan amat sangat ia syukuri. Tak pernah ia bersikap tinggi hati. Sang patih dikenal sangat loyal dan murah hati pada pembantu-pembantu serta rakyatnya. Pernah suatu ketika, datanglah salah seorang rakyatnya kepadanya. Meminta sang patih untuk menerima anaknya sebagai pegawai istana. Dengan sejumlah harta ia merayu sang patih. Sang patih kesal pada sikap seorang rakyatnya tersebut. Tak digubrislah si rakyat ini sampai ia malu sendiri dan tak pernah datang dan merayu lagi.
Suatu hari terjadi sesuatu di negeri Humam, sang raja kecewa terhadap pemberitaan tentang sang pangeran muda. Beredar cerita ia tidak cukup adil dan tidak jujur terhadap rakyat dan sang raja. Sang raja kesal padanya dan akhirnya sang pangeran turun dari tahtanya. Pangeran lain pun ditunjuk menggantikannya. Pangeran yang lebih tua dan dianggap lebih berpengalaman. Sang patih yang mendengar hal ini tak dapat berbuat apa-apa. Harapannya ia tetap dapat bertugas dengan baik bersama dengan sang pangeran tua nan berpengalaman ini.
Pangeran tua bertutur kata halus. Meskipun tidak lagi memiliki semangat yang sama seperti sang pangeran muda dahulu. Sang patih pun mencoba menyesuaikan diri dengan gaya kepemimpinan pangeran tua. Tak mudah memang, tapi ia tetap berupaya menyelaraskan ritme kerjanya dengan sang pangeran tua. Tak jarang ia memberi bunga dan roti untuk pangeran tua ketika sedang berhari raya. Tak segan pula ia mengantar dan menjemput pangeran tua dari negeri antah berantah yang jauh di sana. Sang patih tampak tulus dan tidak bermaksud apa-apa dalam melakukannya. Ia hanya ingin menjaga hubungan barunya dengan pangeran tua yang ia hormati dan ia segani. Tak pernah berubah pula sikapnya terhadap pembantu-pembantu dan rakyatnya. Tak pernah sang patih menghitung apa yang telah ia berikan pada mereka. Yang ada di hatinya hanyalah memberi dan memberi.
Ternyata, buah tak didapat tetapi durilah yang diperoleh sang patih. Sang pangeran tua ternyata tidak menyukainya. Ia dianggap terlalu jujur, terlalu lurus, terlalu bersih, untuk seorang pejabat istana. Banyak cara dilakukan kepala desa-kepala desa lain untuk menyingkirkan sang patih dari posisi terhormatnya. Hampir dari mereka semua tak menyukai ketulusan dan kejujurannya. Pangeran tua ternyata punya rencana lain. Bersama dengan seorang kepala desa dari desa mitai yang disukainya, pangeran tua berusaha menyingkirkan sang patih.
Tak dapat dipungkiri kedekatan sang pangeran tua dengan si kepala desa dari desa mitai ini. Pernah pangeran tua ke negeri antah berantah bersama dengan si kepala desa dari desa mitai. Tak perlu dikhawatirkan biaya hidup di sana, karena si kepala desa rela mengeluarkan harta warisannya untuk menyenangkan hati pangeran tua. Putri dari pangeran tua pun dimanjakan si kepala desa ini. Harapan si kepala desa ia dapat mencapai posisi penting di istana. Ia tidak mau menjadi kepala desa lagi. Tak cukup baginya dihormati sebagai seorang kepala desa. Ia ingin harta berlimpah, kehormatan tak terbatas untuk dirinya dan keluarganya. Meski harus menyingkirkan teman seperjuangannya yaitu sang patih yang jujur dan adil itu, tak pedulilah si kepala desa mitai padanya.
Demikianlah kisah sang patih di negeri Humam. Sang patih disingkirkan. Meski kesedihan baru dialami sang patih karena istrinya yang sakit keras, ibunya yang juga sakit dan bahkan tak lama lagi hidupnya. Ia tetap disingkirkan, meskipun sang pangeran tua mengetahui keadaan dan kepedihannya. Ternyata tua dan berpengalaman tak selalu menunjukkan bijak tidaknya seseorang. Sang patih yang tersingkir diberi suatu posisi di istana, tapi yang tak lagi dipandang hormat, yang tak lagi dipuja-puja. Seperti seorang manusia yang dipatahkan kakinya. Tak mampu berjalan, tak mampu berbicara. Bagai kuda terbaik yang dimasukkan dalam kandang kotor dan sempit. Ya, tempat sang patih itu sekarang adalah tetap di istana, tetapi di ruang yang amat sangat kecil hingga hampir tak bisa bernapas. Pedih pula hati keluarganya. Istri dan anak-anaknya berduka melihat keadaan sang patih yang disingkirkan. Tak mampu berbuat apa-apa. Tak terima dengan keputusan sang pangeran tua. Tak terima pula dengan jalan yang diberikan Tuhan kepadanya. Tapi tetap tak dapat melakukan apa-apa, hanya terluka dalam diam. Semangatnya yang dulu berapi-api kini telah surut. Bertanya dalam kebekuan, orang seperti apakah yang dibutuhkan oleh negerinya?
-dunia ini (tak) adil?-